Kamis, 16 Januari 2014

Dear kawan seperjuangan,
Catatan ini aku tujukan kepada kalian yang telah bersama-sama denganku mengalami pahit manisnya masa-masa SMP. :)
Bagaimana kabar kalian kawan? Apakah kalian sudah sukses, sukses bekerja, sukses membina rumah tangga harmonis, dan sukses mengenyam pendidikan yang lebih tinggi? Sudah lama kita tak bersua. Pasti kalian rindu bukan? Hehehe. Sama, aku juga sangat rindu. Rindu bercerita, rindu bersaing, rindu bertengkar, ah, rindu semua hal yang pernah kita lalui bersama.
Mungkin teman-teman masih ingat acara buka bersama yang kita adakan di SMP 2 tahun silam, eh 3 tahun silam, maaf saya pelupa. Yang pasti acara itu dua bulan puasa yang lalu. Aku ingin sedikit bercerita tentang itu. Semoga kalian berkenan membaca catatan ini sampai tuntas.
Ide acara bukber muncul karena rasa rindu teman-teman setelah 3 tahun tak bertemu semenjak acara lepas pisah di SMP Negeri 1 Arjasa. Masih kuingat saat itu, kita tertawa bersama menikmati acara lepas pisah yang dipersembahkan dengan memesona. Masih ingat kan? :) Sebagian dari kita (Elis, Astril, Rinda, Ika, Linda, Melda, Nia, Vidia, Soni, Yos, Edi, Wafil, Herman, Hendi, Aku, dan beberapa yang lainnya, maaf aku lupa), merencanakan acara bukber bersama-sama. Aku yang saat itu sebagai ketua -karena mereka tak ada yang mau- hanya berperan sebagai penyemangat, pengkoordinir. Ya, hanya itu saja. Selebihnya, mereka yang mengatur. Dari izin tempat, penyebaran undangan sampai konsumsi.
Setiap pulang sekolah kami rapat, layaknya orang-orang DPR.an. Tapi, markas kami bukan di gedung mewah seperti DPR, kami rapat di sebuah musholla kecil nan damai (dekat rumahku). Tahap pertama yang kami lakukan adalah, merayu pihak sekolah agar mau mendukung acara kami. Dioper ke sana ke mari dan akhirnya kepala sokalah menyetujui. Ah, benar-benar luar biasa almamater kita itu. J
Selanjutnya, kami sempatkan waktu untuk menyebar undangan, undangan tak boleh ada satupun yang ketinggalan. Walau panas dan dalam keadaan berpuasa, undangan tetap kami antarkan ke rumah kalian dengan semangat, berharap kalian semua berkenan datang. Sebagian menyebar undangan, sebagian lagi mengatur untuk takjil dan menu berbuka. Kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, agar kalian tak kecewa. Kalau ditanya apa kami tidak lelah? Lelah, sangat lelah. Tapi, kami percaya lelah ini akan terbayar dengan kebersamaan kita diacara bukber nanti.
Kami sempat berputus asa ketika yang mengkonfirmasi kedatangan hanya beberapa dari sekian ratus orang. Alasannya, mereka sibuk. Ah, kami juga sibuk kawan. Lebih sibuk dari kalian. Alasan lainnya, iurannya kemahalan. Kami hanya tersenyum pahit, iuran itu tak seberapa. Kami membayar dua kali lipat dari iuran itu. Kami juga kerahkan seluruh tenaga dan pikiran demi kegiatan ini. Jadi, lebih mahal mana? J Namun, semangat kami muncul lagi ketika kami ingat, tujuan acara ini adalah untuk menyambung tali silaturahmi dan melepas rindu. Ya, itu saja. Sederhana, tapi bermakna. Dan, tujuan itu harus terlaksana walau yang datang hanya sekian persen saja.
Hari itu, kami tak sabar menanti kedatangan kalian. Berjumpa dengan kawan lama, melepas rindu dan saling bercerita. Sungguh hal yang membahagiakan. Dengan bantuan mz Andik, Pak Buhari, Pak Satpam dan Bapak Wiro’i (penasehat sekaligus guru yang mengawal kami dalam mempersiapkan acara), kami persiapkan semuanya dengan cermat. Kalian yang datang, pasti sudah tau bagaimana acara itu berjalan, lancar awalnya, tapi kacau saat menjelang berbuka. Hehehe … memang, suatu kegiatan tak ada yang sempurna kan?
Hujan, dan kehadiran teman-teman yang belum konfirmasi membuat kami kewalahan. Kami sempat mengeluh, ya ini resiko, dan, kami harus siap menanggungnya. Panitia nyaris tak berbuka, karena menu untuk berbuka lewat dari perhitungan. Tapi di sana kami diajarkan untuk berbagi, untuk ikhlas, walau satu kotak nasi untuk beberapa orang, tak menghilangkan senyuman dari wajah kami. Hehe …
Untuk mencapai hal yang luar biasa bukankah harus dengan usaha yang luar biasa? Ya, hal yang luar biasa yang kami peroleh saat itu adalah bahagia. Bahagia karena bisa bertemu kalian, apakah kalian juga merasakannya?
Kawan, terima kasih. Terima kasih karena sudah mau hadir. Terima kasih dariku untuk panitia yang membantu. Untuk Linda, Melda, Nia yang harus betah ke pasar demi menyiapkan takjil, untuk elis dan rinda yang berani menanggung resiko pegang uang banyak, dan untuk kalian semua (Edi, Yos, Soni, Herrman, Hendi, Vidia, Ika, Astril, Wafil, Taufik, dll) yang basah kuyup saat acara. Terima kasih juga karena mengkhawatirkanku padahal kondisi kalian lebih mengkhawatirkan saat itu. Hehe … Lalu, kapan kita bisa bersua kembali? :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar