Dear kawan seperjuangan,
Catatan ini aku tujukan
kepada kalian yang telah bersama-sama denganku mengalami pahit manisnya
masa-masa SMP. :)
Bagaimana kabar kalian
kawan? Apakah kalian sudah sukses, sukses bekerja, sukses membina rumah tangga
harmonis, dan sukses mengenyam pendidikan yang lebih tinggi? Sudah lama kita
tak bersua. Pasti kalian rindu bukan? Hehehe. Sama, aku juga sangat rindu. Rindu
bercerita, rindu bersaing, rindu bertengkar, ah, rindu semua hal yang pernah
kita lalui bersama.
Mungkin teman-teman masih
ingat acara buka bersama yang kita adakan di SMP 2 tahun silam, eh 3 tahun
silam, maaf saya pelupa. Yang pasti acara itu dua bulan puasa yang lalu. Aku
ingin sedikit bercerita tentang itu. Semoga kalian berkenan membaca catatan ini
sampai tuntas.
Ide acara bukber muncul
karena rasa rindu teman-teman setelah 3 tahun tak bertemu semenjak acara lepas
pisah di SMP Negeri 1 Arjasa. Masih kuingat saat itu, kita tertawa bersama
menikmati acara lepas pisah yang dipersembahkan dengan memesona. Masih ingat
kan?
Sebagian dari kita (Elis, Astril,
Rinda, Ika, Linda, Melda, Nia, Vidia, Soni, Yos, Edi, Wafil, Herman, Hendi,
Aku, dan beberapa yang lainnya, maaf aku lupa), merencanakan acara bukber
bersama-sama. Aku yang saat itu sebagai ketua -karena mereka tak ada yang mau-
hanya berperan sebagai penyemangat, pengkoordinir. Ya, hanya itu saja.
Selebihnya, mereka yang mengatur. Dari izin tempat, penyebaran undangan sampai
konsumsi.
Setiap pulang sekolah kami
rapat, layaknya orang-orang DPR.an. Tapi, markas kami bukan di gedung mewah
seperti DPR, kami rapat di sebuah musholla kecil nan damai (dekat rumahku).
Tahap pertama yang kami lakukan adalah, merayu pihak sekolah agar mau mendukung
acara kami. Dioper ke sana ke mari dan akhirnya kepala sokalah menyetujui. Ah,
benar-benar luar biasa almamater kita itu. J
Selanjutnya, kami sempatkan
waktu untuk menyebar undangan, undangan tak boleh ada satupun yang ketinggalan.
Walau panas dan dalam keadaan berpuasa, undangan tetap kami antarkan ke rumah
kalian dengan semangat, berharap kalian semua berkenan datang. Sebagian
menyebar undangan, sebagian lagi mengatur untuk takjil dan menu berbuka. Kami
mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, agar kalian tak kecewa. Kalau
ditanya apa kami tidak lelah? Lelah, sangat lelah. Tapi, kami percaya lelah ini
akan terbayar dengan kebersamaan kita diacara bukber nanti.
Kami sempat berputus asa
ketika yang mengkonfirmasi kedatangan hanya beberapa dari sekian ratus orang.
Alasannya, mereka sibuk. Ah, kami juga sibuk kawan. Lebih sibuk dari kalian.
Alasan lainnya, iurannya kemahalan. Kami hanya tersenyum pahit, iuran itu tak
seberapa. Kami membayar dua kali lipat dari iuran itu. Kami juga kerahkan
seluruh tenaga dan pikiran demi kegiatan ini. Jadi, lebih mahal mana? J Namun,
semangat kami muncul lagi ketika kami ingat, tujuan acara ini adalah untuk
menyambung tali silaturahmi dan melepas rindu. Ya, itu saja. Sederhana, tapi
bermakna. Dan, tujuan itu harus terlaksana walau yang datang hanya sekian
persen saja.
Hari itu, kami tak sabar
menanti kedatangan kalian. Berjumpa dengan kawan lama, melepas rindu dan saling
bercerita. Sungguh hal yang membahagiakan. Dengan bantuan mz Andik, Pak Buhari,
Pak Satpam dan Bapak Wiro’i (penasehat sekaligus guru yang mengawal kami dalam
mempersiapkan acara), kami persiapkan semuanya dengan cermat. Kalian yang
datang, pasti sudah tau bagaimana acara itu berjalan, lancar awalnya, tapi
kacau saat menjelang berbuka. Hehehe … memang, suatu kegiatan tak ada yang
sempurna kan?
Hujan, dan kehadiran
teman-teman yang belum konfirmasi membuat kami kewalahan. Kami sempat mengeluh,
ya ini resiko, dan, kami harus siap menanggungnya. Panitia nyaris tak berbuka,
karena menu untuk berbuka lewat dari perhitungan. Tapi di sana kami diajarkan
untuk berbagi, untuk ikhlas, walau satu kotak nasi untuk beberapa orang, tak
menghilangkan senyuman dari wajah kami. Hehe …
Untuk mencapai hal yang
luar biasa bukankah harus dengan usaha yang luar biasa? Ya, hal yang luar biasa
yang kami peroleh saat itu adalah bahagia. Bahagia karena bisa bertemu kalian,
apakah kalian juga merasakannya?
Kawan, terima kasih. Terima
kasih karena sudah mau hadir. Terima kasih dariku untuk panitia yang membantu.
Untuk Linda, Melda, Nia yang harus betah ke pasar demi menyiapkan takjil, untuk
elis dan rinda yang berani menanggung resiko pegang uang banyak, dan untuk
kalian semua (Edi, Yos, Soni, Herrman, Hendi, Vidia, Ika, Astril, Wafil,
Taufik, dll) yang basah kuyup saat acara. Terima kasih juga karena
mengkhawatirkanku padahal kondisi kalian lebih mengkhawatirkan saat itu. Hehe …
Lalu, kapan kita bisa bersua kembali? 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar